26 September
Pengelolaan Pasien Trauma dengan Suspek Cedera Spinal

Tulang belakang tersusun oleh 33 ruas tulang yang disebut vertebra. Setiap vertebra dilindungi oleh corda spinal (jaringan nervus). Trauma atau patah tulang pada tulang vertebra dapat menyebabkan cedera pada corda spinal.

Adanya kemungkinan cedera spinal harus dipertimbangkan pada tiap penanganan korban dengan trauma. Cedera sekunder akibat adanya cedera spinal dapat diminimalkan bila teknik pemindahan korban dengan suspek cedera spinal dilakukan dengan tepat.

Cedera spinal dapat terjadi pada tulang belakang di bagian leher (tulang servical), bagian belakang dada (thoracic spine) dan punggung (lumbar spine). Tulang leher merupakan bagian yang paling rentan terjadinya cedera. Lebih dari setengah dari cedera tulang spinal terjadi di area cervical. Adanya cedera tulang servical harus diwaspadai, karena berhubungan dengan prinsip penanganan airway.

Mekanisme Injury

Dalam menentukan korban dengan cedera spinal, pertama kali yang harus dikaji adalah mekanisme injury. Kejadian yang paling sering menyebabkan cedera spinal diantaranya:

  • Kecelakaan kendaraan roda dua (sepeda, motor)
  • Pejalan kaki
  • Kecelakaan kerja (industrial accident)
  • Menyelam atau melompat ke dalam air yang dangkal atau air dengan ombak
  • Kecelakaan olahraga (jatuh dari kuda)
  • Jatuh dari ketinggian (contoh: tangga, atap)
  • Pukulan keraas di kepala
  • Luka tembus

 

 

Tanda dan Gejala

Tanda yang paling mudah dalam menentukan korban dengan suspek cedera spinal diantaranya:

1.     Bau feses

2.     Bau urin

3.     Priapismus (ereksi terus menerus pada korban laki-laki)

 

Adapun tanda lainnya yang dapat muncul diantaranya:

1. Tanda

ü Posisi abnormal leher dan kepala

ü Gangguan status mental

ü Kesulitan bernafas

ü Syok

ü Perubahan tonus otot

       2. Gejala

ü Nyeri di area yang mengalami cedera

ü Tingling, mati rasa

ü Kelemahan dan ketidakmampuan menggerakkan anggota tubuh

ü Nausea

ü Sakit kepala atau pusing

ü Gangguan atau berkurangnya sensori

 

Penanganan Korban dengan Suspek Cedera Spinal

Dalam menangani korban dengan suspek cedera spinal terutama dia area pra rumah sakit, maka prioritas yang harus dilakukan diantaranya:

1.           Telepon ambulance yang medukung untuk pertolongan korban dengan trauma

2.                Tangani airway, breathing, circulation

3.                Penanganan spinal

 

Kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya cedera spinal dan penanganan korban dengan memperhatikan pergerakan tulang spinal merupakan kunci untuk meminimalkan terjadinya cedera lebih lanjut.

Pada korban sadar, beritahu korban untuk tetap tidak menggerakkan area leher dan tulang belakang. Namun penolong tidak perlu me-restrain korban yang tidak kooperatif. Tetap jaga korban pada posisi yang nyaman. Pemindahan korban dilakukan dengan meminimalkan pergerakan tulang spinal dan hal ini harus dilakukan oleh first aider/perawat/dokter yang terlatih yang dilengkapi dengan peralatan khusus.

Baik pada korban sadar maupun tidak sadar, pengelolaan jalan napas lebih diutamakan daripada cedera tulang belakang yang dicurigai. Pertahankan jalan napas dengan tidak melakukan manipulasi tulang cervical. Bila korban mengalami snoring (sumbatan jalan napas akibat lidah jatuh), maka teknik manual yang paling tepat adalah dengan melakukan chin lift atau jaw trust. Kedua teknik tersebut efektif untuk membuka jalan napas tanpa manipulasi pada tulang cervical. Bila perlatan memadai, segera lakukan fiksasi tulang leher menggunakan cervical collar/neck collar. Lakukan pemasangan neck collar dengan tepat. Pemasangan neck collar tidak dapat dilakukan oleh satu penolong. Pemilihan neck collar yang tepat disesuaikan dengan ukuran leher korban. Penolong harus memiliki keterampilan dalam mengukur ukuran neck collar berdasarkan ukuran leher korban. 

Setelah stabilisasi masalah airway, breathing dan circulation telah dilakukan, maka pemindahan dilakukan dengan menggunakan Long Spine Board (LSB) atau alas yang keras. Teknik pemindahan dilakukan dengan cara logroll, yaitu memiringkan korban sedemikian rupa sehingga korban dimiringkan dalam posisi segaris. Kepala dan batang tubuh miring bersamaan yang dilakukan oleh 3-4 orang penolong. Hal tersebut bertujuan untuk tetap meminimalkan pergerakan pada tulang spinal dan memindahkan korban ke LSB.

Korban yang telah berada di LSB harus distrapping untuk mencegah korban jatuh dari LSB. Pemindahan dilakukan dengan tetap mengevaluasi Airway, Breathing, Circulation serta status kesadaran korban.

 

Sebagai catatan, LSB  tidak digunakan pada semua pasien trauma. Studi oleh Theodore et al dan Rozelle et al dalam International Trauma Life Support (2014) menyebutkan bahwa tidak semua pasien dengan trauma harus dilakukan imobilisasi tulang belakang. Hanya pasien trauma yang dicurigai mengalami cedera spinal dan atau cervical yang diindikasikan untuk menggunakan LSB. Penggunaan LSB yang tidak tepat dan kurang bijaksana dapat menyebabkan kerugian pada korban. Study klinis menunjukkan bahwa penggunaan LSB yang terlalu lama dapat berpotensi terhadap gangguan pernapasan, meningkatkan risiko aspirasi dan penekanan pada luka. Oleh karena itu untuk meminimalkan kerugian tersebut, pasien harus segera dipindahkan dari LSB seaman mungkin, karena LSB adalah alat ekstrikasi primer yang didesain untuk memindahkan pasien (dengan kecurigaan cedera spinal dan leher) ke stretcher. Perlu diperhatikan juga bahwa penggunaan LSB tidak diindikasikan pada pasien dengan luka tusuk pada bagian badan, kepala dan leher; terkecuali jika ada bukti klinis dari cedera tulang belakang.


Penulis: Hellda

Referensi:

 Alson, Roy dan Darby Copeland. Long Backboard Use For Spinal Motion Restriction of the Trauma           Patient. International Trauma Life Support. 2014.

Australian Resuscitation Council. Management of Suspected Injury. 2016.

Pro Emergency. Basic Trauma Life Support. 2015.